Pengaruh obat-obat psikotropika terhadap sistem saraf


Obat-obat psikotropika disebut juga zat-zat radioaktif. Bagi ilmu kedokteran zat-zat psikoaktif digunakan untuk mengobati penyakit mental dan saraf. Akan tetapi bila obat-obatan semacam itu
disalahgunakan akan menyebabkan terjadinya masalah serius karena dapat mempengaruhi otak dan fikiran serta bagian tubuh lainnya. Juga dapat menyebabkan ketergantungan fisik yang lazim disebut dengan ketagihan ( adiksi ). Timbul pertanyaan , mengapa orang pemakai narkoba bisa ketagihan ( adiksi ) ??? Karena adanya opium .

Zat-zat psikoaktif dapat masuk ke dalam tubuh melalui :

1. Mulut ( misalnya seorang perokok, taukah dalam rokok terdapat nikotin, nikotin itu akan ada dalam darah seorang perokok , ).

2. Hidung ( menghisap zat dalam bentuk uap atau bubuk, misalnya orang pemakai kokain).

3. Kulit ( menyuntikkannya ke dalam otot atau vena ).

Menurut cara obat psikotropika mempengaruhi pemakainya, obat psikotropika debedakan menjadi tiga macam / tiga jenis, sebagai berikut :

1. Stimulan
Stimulan bersifat menstimulasi sistem saraf simpatetik melalui pusat hipotalamus sehingga meningkatkan kerja ( kegiatan ), misalnya menyebabkan penggunanya tetap terjaga ( kafein ), memberikan rasa percaya diri yang semu, meningkatkan kewaspadaan ( amfetamin ), mengurangi rasa lelah, rasa ngantuk, rasa lapar, serta memberikan perasaan gembira ( ekstasi dan kokain ). Tetapi semua itu hanya bersifat semu, sementara, dan efeknya yang berbahaya.

2. Halusinogen
Dalam dosis sedang, halusinogen mempunyai pengaruh kuat terhadap persepsi penglihatan dan pendengaran subjek serta peningkatan respons emosional. Dengan dosis yang tinggi, dapat terjadi halusinasi yang sebenarnya, yakni si subjek ” melihat ” atau ” mendengar ” benda-benda yang tidak ada sama sekali atau melihat benda-benda tampak seperti bergerak hidup.

Halusinogen meliputi LSD , STP ( mirip amfetamin ), DMT, mesakolin ( dari pohon pinus peyote ), psilosobin ( dari jenis jamur ), dan PCP ( fenseklidin ) suatu obat bius hewan.

3. Depresan
Pada umumnya depresan membuat susunan saraf menjadi pasip. Depresan berfungsi untuk mengurangi kegiatan sistem saraf sehingga menurunkan aktivitas pemakainya. Dalam bidang kedokteran obat tersebut berguna untuk meredakan ketegangan jiwa, membantu mengurangi rasa cemas dan gelisah, pengobatan darah tinggi dan epilepsi. Contoh, depresan misalnya sedatif ( barbiturat , alkohol, dan obat-obat penenang ).

Itulah yang dapat saya tuliskan tentang pengaruh obat psikotropika terhadap sistem saraf. Kesimpulan : oba identik dengan racun, jika dosis tepat dan benar akan menjadi obat. Sedangkan salah dosis akan menjadi racun, ingat penggunaan obat dengan resep dokter.

Jika ada kesalahan mohon dimaklumi, kunjungi terus blog ini , terimakasih.

Ditulis dalam Uncategorized. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Pengaruh obat-obat psikotropika terhadap sistem saraf”

  1. RANIE Says:

    GOOD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: