Sanggah nganten desa pedawa


Berawal dari gax da kerjaan, ya tulis-tulis ja ah,.. Semua yang ku fikirkan kan ku tulis hahaha. Banyak ada kejadian dan apapun, sekarang pasti dipertanyakan, gax salah karena orang- orang sekarang memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Ni bisa jadi positif dan kemajuan di masa mendatang. Wah kok rasanya saya ngelantur ya ???😀 sori tu hanya pembukaan dari semua ide yang muncul dari dalam kepala saya… Ow…ow…ow…!. Nah kayaknya sudah cukup pembukaan dari tulisan ini, mari langsung ke topik utamanya. Topik kita hari ini adalah " Sanggah Nganten " , udah pada tau belum sanggah nganten tu apa dan bagaimana ??? Cekidot….. Baca baik-baik, karena ni perlu pemahaman dan perlu ketepatan dalam berfikir yang logis.

Sanggah nganten merupakan tempat pemujaan yang harus dimiliki oleh seseorang yang sudah berkeluara. Jadi jumlah sanggah nganten yang ada di desa pedawa sama banyaknya dengan jumlah orang yang sudah berkeluarga / menikah. Sanggah nganten terbuat dari bambu , dan kalaupun dalan waktu tertentu ada salah satu bagian penyangga rapuh bisa diganti sementara dengan kayu dadap tis ( sering juga disebut kayu sakti ).

Bentuk sanggah lumayan sederhana tetapi bagi saya memiliki nilai seni yang tinggi. Secara umum memiliki 8 pasang tiang penyangga tingginya kurang lebih 2 meter, dan memiliki 7 tempat banten / katuran ( pitung bungkah / pitung rongan ). Pada bagian tiing alas banten, memanjang dah harus puncuk / puncak tiing ada di bagian paling kangin, Kalau kita lihat dari depan harus ada paling kiri.

Masing-masing rong tempat memuja tempat yang berbeda-beda Mulai dari rong ke 1 sampai rong ke 7

1. Gede kemulan taksu

2. Pengandel ( pura majapahit )

3. Yos masing-masing keluarga ( kalau keluarga saya pura Batur mekasa ) ini bisa berbeda-beda tergantung kepercayaan keluarganya

4. Pura ulun danu

5. Pura labuhan aji

6. Pura munduk duur

7. Pura alas kowalon

catatan : masing-masing keluarga memiliki keyakinan yan berbeda-beda tentang yang dipujanya, jadi bisa berbeda dan intinya tetap satu.

Makna sanggah nganten ??? Nah ini yang dipertanyakan, ada juga yang bertanya mengapa harus bambu, kenapa gax bisa diganti dengan kayu ? Kan bisa lebih kokoh ? Nah itu mungkin pertanyaan anak muda sekarang bahkan termasuk saya. Sebenarnya mengapa harus dipertanyakan, kan memang sudah begitu ( nak mule keto ) dari dulu dan perlu kita lestarikan peninggalan pendahulu kita. Tidak bisa disalahkan juga karena rasa tau yang besar juga akan ikut andil dalam pelestarian budaya. Pepatah mengatakan orang yang ingin tau akan tau lebih banyak. Bahkan tua-tua kita tidak bisa menjelaskan

karena memang sudah begitu adanya. Saya juga tidak tau dengan pasti karena belum bisa membuat mesin waktu untuk menanyakan kepada pendahulu kita atau leluhur kita. Mungkin sedikit wawasan tentang konsep Tri Hita Karana dan kita harus berfikir seperti orang dulu, . Karena pepatah yang saya tau " jika inin tau hati seseorang, berusaha jadilah orang tersebut " Membahas pertanyaan diatas.

1. Mengapa harus terbuat dari banbu ?? Bagi pendahulu kita Bambu merupakan bahan yang paling pertama digunakan sebagai bahan bangunan, itu karena bambu mudah digunakan dan ukurannya dianggap paling pas dan mengolahnya bisa menggunakan alat-alat yang sederhana. coba lihat bangunan desa tenganan yang juga salah satu desa Bali Aga. mungkin karena itulth jadi dengan harapan bahwa bambu bisa memudahkan kita dan kalau dilihat dari konsep alam, kita disuruh menjaga kelestariannya dengan selalu menggunakan bambu berarti bambu akan terus lestari.

pertanyaan yang ke 2. Mengapa gax bisa diganti dengan kayu ? Pertama kebudayaan yang sudah turun temurun tu harus kita jaga, mengapa hayo fikir ? Kita harus menghormati karya leluhur kita

Tau gax tujuan para pendahulu kita adalah untuk memudahkan kita juga, banbu mudah dicari hanya saja kita harus melestarikannya, ni juga berhubungan langsung dengan konsep Tri Hita Karana yan saya sebut di awal, konsepnya yaitu

a. Menjaga hubungan Tuhan / pencipta dan manusia

b. Mengjaga hubungan manusia dengan sesama manusia

c. Menjaga hubungan manusia dengan lingkungan

Timbul lagi pertanyaan , apa hubungan sanggah dengan tri hita karana ??? Pasti ada yang berfikiran ingin nanya kan ?? Ya dech… Oe jawah dikit yan pertama .

Hubungan Tuhan dan manusia, sanggah juga bisa digunakan tempat pemujaan bahkan ada 7 kan yang saya sebutkan diatas, selain itu menghormati leluhur yang sudah menjadi atman bahkan yang sudah menyatu dengan brahman yan.

Ke 2 menjaga hubungan manusia dengan sesama manusia. Lihat saja proses pembuatan sanggah nganten tersebut. Secara umum pembuatan dan penggarapannya juga melibatkan teman, kerabat, keluarga, dan tetangga sekitarnnya dan diberikan sikut atau ukuran dan dengan iklas kerabat, tetangga dengan senang hati membantu membuatnya.

yang ke 3 . Menjaga hubungan antara manusia dan lingkungannya, lihat bahan yang digunakan yaitu bambu dan yg umum bambu bali / ting bali, dengan terus menerus menggunakan bambu jadi kita diajarkan untuk melestarikannya , dengan menanam ulang begitu juga dengan tanaman yang lain. Jagalah dan lestarikan lingkungan kita.

Bagaimana teman-teman ? Masi ada keraguan ? Jadi intinya kita harus maknai semua yang ada barulah kita mengerti akan semua. Jadi buka wawasan dan berfikir yang logis. Selamat membaca by : ketut supeksa.

5 Tanggapan to “Sanggah nganten desa pedawa”

  1. Merpati Putih Says:

    Bagaimana dgn keluarga yg merantau diluar … atau bahkan sudah menetap di luar pedawe..?

    • supeksa Says:

      menurut para tetua kita,

      1. yang sudah menetap mereka wajib mendirikan sanggah nganten, ( jika dia laki2 dan menjadi kepala keluarga, tidak berkaku bagi perempuan yang diambil laki2 laen desa ) conthnya ada dari desa pedawa yang menetap di lombok . dia mendirikan sanggah nganten di lombok. kalo gx salah namanya Made Renya .

      2. yang tidak menetap, hanya merantau dan pasti pulang kembali, kerumahnya dia membuat di rumahnya saja. wajib juga jika sudah menikah.

  2. Swidana Says:

    Saya sangat setuju, anda mau memuat tentang sesuatu yang ada di pedawa terutama yang unik dan masih khas… namun demikian, jika boleh memberi saran, alangkah baiknya kalau sebelum membuat tulisan ini kita sempurnakan dulu atau makna dan arti dari sesuatu yang kita angkat. Contohnya ketika anda menulis tentang rong yang ada pada sanggah nganten terutama poin ke 2 (dua) kayaknya saya kurang sependapat, mengingat yang namanya pengandel itu adalah pasangan atau pendamping dari sesuwunan kita contohnya kalau yang laki yosnya munduk madeg kemudian yang perempuannya dari mayung, maka yang kelinggihang adalah munduk madeg dan labuan aji bukan majapahit.
    Untuk bahan Bambu juga bukan sekedar bahan yang gampang didapat tapi memang bambu, terutamanya bambu bali ada makna tersendiri didalamnya dan untuk pengganti kayu juga ada maknanya…. mohon maaf kalau ada yang salah ini sifatnya hanya untuk menyamakan persepsi karena saya juga sedang meneliti tentang sanggah nganten yang ada di pedawa terima kasih

    • Ketut Supeksa Says:

      terimakasih atas tanggapannya . tentang pengandel tersebut ini saya ambil dari salah satu pendapat saja, karena banyak pendapat yang berbeda… itu ditentukan dari garis keluarganya yang ada yang berbeda. kalau ada perbedaan dalam pendapat tersebut itu memang wajar. terimakasih sekali lagi saya ucapkan. salam anak pedawa

  3. Desy Says:

    ternyata masih ada ya anak pedawa yang peduli ttg tradisi leluhur
    saya org Pedawa juga tp udah nikah keluar n skr saya juga sedang meneliti ttg Sanggah Nganten ini sebagai karya Tulis ilmiah mohon bantuannya yaaa…thanks be4


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: